Kamis, 06 Desember 2012

PESERTA DIDIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM



BAB I
PENDAHULUAN

            1.1.           LATAR BELAKANG MASALAH
Salah satu komponen dalam system pendidikan adalah adanya peserta didik, peserta didik merupakan komponen yang sangat penting dalam system pendidikan, sebab seseorang tidak bisa dikatakan sebagai pendidik apabila tidak ada yang dididiknya.
Peserta didik adalah orang yang memiliki potensi dasar, yang perlu dikembangkan melalui pendidikan, baik secara fisik maupun psikis, baik pendidikan itu dilingkungan keluarga, sekolah maupun dilingkkungan masyarakat dimana anak tersebut berada.
Sebagai peserta didik juga harus memahami kewajiban, etika serta melaksanakanya. Kewajiban adalah sesuatu yang wajib dilakukan atau dilaksanakan oleh peserta didik. Sedangkan etika adalah aturan perilaku, adat kebiasaan yang harus di tati dan dilaksanakan oleh peserta didik dalam proses belajar.
Namun itu semua tidak terlepas dari keterlibatan pendidik, karena seorang pendidik harus memahami dan memberikan pemahaman tentang dimensi-dimensi yang terdapat didalam diri peserta didik terhadap peserta didik itu sendiri, kalau seorang pendidik tidak mengetahui dimensi-dimensi tersebut, maka potensi yang dimiliki oleh peserta didik tersebut akan sulit dikembangkan, dan peserta didikpun juga mengenali potensi yang dimilikinya.
Dalam makalah ini, kami mencoba menghidangkan persoalan-persoalan diatas guna mncapai tujuan pendidikan yang diharapakan, khususnya dalam pendidikan Islam.
          1.2.           RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian dari peserta didik itu ?
2.      Apa saja demensi-demensi peserta didik itu ?
3.   Bagamanakah intelegensi peserta didik itu ?
4.    Bagamanakah keperibadian peserta didik itu ?
      5.      Bagaimanakah etika dari peserta didik itu ?

          1.3.        TUJUAN
              Dari beberapa rumusan diatas maka tujuan yang hendak dicapai  antar lain ialah
Para pendengar dan pembaca dapat mengerti tentang peserta didik,baik dari demensinya,etika,dan semua hal yang berhubungan dengan peserta didik.






















                                                                                                               


BAB II
PEMBAHASAN

                2.1. PENGERTIAN PESERTA DIDIK

Secara etimologi peserta didik dalam bahasa arab disebut dengan Tilmidz jamaknya adalah Talamid, yang artinya adalah “murid”, maksudnya adalah “orang-orang yang mengingini pendidikan”. Dalam bahasa arab dikenal juga dengan istilah Thalib, jamaknya adalah Thullab, yang artinya adalah “mencari”, maksudnya adalah “orang-orang yang mencari ilmu”. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw:
من طلب علما فادركه كتب الله كفلين…….( رواه الطبرنى )
“Siapa yang menuntut ilmu dan mendapatkannya, maka Allah mencatat baginya dua bagian”. (HR. Thabrani)
Namun secara definitif yang lebih detail para ahli teleh menuliskan beberapa pengertian tentang peserta didik. Peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memilki sejumlah potensi (kemampuan) dasar yang masih perlu dikembangkan.[1][1]
Menurut pasal 1 ayat 4 UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional, peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Abu Ahmadi juga menuliskan tentang pengertian peserta didik, peserta didik adalah orang yang belum dewasa, yang memerlukan usaha, bantuan, bimbingan orang lain untuk menjadi dewasa, guna dapat melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Tuhan, sebagai umat manusia, sebagai warga Negara, sebagai anggota masyarakat dan sebagai suatu pribadi atau individu.[2][2]
Dari definisi-definisi yang diungkapkan oleh para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa peserta didik adalah orang yang mempunyai fitrah (potensi) dasar, baik secara fisik maupun psikis, yang perlu dikembangkan, untuk mengembangkan potensi tersebut sangat membutuhkan pendidikan dari pendidik.
Samsul Nizar, sebagaimana yang dikutip oleh Ramayulis mengklasifikasikan peserta didik sebagai berikut:
a.              Peserta didik bukanlah miniature orang dewasa tetapi memiliki dunianya sendiri.
b.             Peserta didik memiliki periodisasi perkembangan dan pertumbuhan.
c.              Peserta didik adalah makhluk Allah SWT yang memiliki perbedaan individu baik disebabkan oleh faktor bawaan maupun lingkungan dimana ia berada.
d.             Peserta didik merupakan dua unsur utama jasmani dan rohani, unsur jasmani memiliki daya fisik dan unsur rohani memiliki daya akal hati nurani dan nafsu.
e.              Peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi atau fitrah yang dapat dikembangkan dan berkembang secara dinamis.[3][3]
Peserta didik juga dikenal dengan istilah lain seperi Siswa, Mahasiswa, Warga Belajar, Palajar, Murid serta Santri.
a.              Siswa adalah istilah bagi peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
b.             Mahasiswa adalah istilah umum bagi peserta didik pada jenjang pendidikan perguruan tinggi.
c.              Warga Belajar adalah istilah bagi peserta didik nonformal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
d.             Pelajar adalah istilah lain yang digunakan bagi peserta didik yang mengikuti pendidikan formal tingkat menengah maupun tingkat atas.
e.              Murid memiliki definisi yang hampir sama dengan pelajar dan siswa.
f.              Santri adalah istilah bagi peserta didik pada jalur pendidikan non formal, khususnya pesantren atau sekolah-sekolah yang berbasiskan agama islam.[4][4]
Pendidikan merupakan bantuan bimbingan yang diberikan pendidik terhadap peserta didik menuju kedewasaannya. Sejauh dan sebesar apapun bantuan itu diberikan sangat berpengaruh oleh pandangan pendidik terhadap kemungkinan peserta didik utuk di didik.
Sesuai dengan fitrahnya manusia adalah makhluk berbudaya, yang mana manusia dilahirkan dalam keadaan yang tidak mengetahui apa-apa dan ia mempunyai kesiapan untuk menjadi baik atau buruk.
Peserta didik juga mempunyai kewajiban, diantaranya yaitu menurut UU RI No. 20 th 2003:
a.              Menjaga norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan pendidikan.
b.             Ikut menanggung biaya pendidikan kecuali bagi yang dibebaskan dari kewajiban tersebut.[5][5]
Dalam buku yang ditulis oleh Rama yulis, menurut Al-Ghozali ada sebelas kewajiban peserta didik, yaitu :
1.             Belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqoruh kepada Allah SWT, sehingga dalam kehidupan sehari-hari anak didik dituntut untuk mensucikan jiwanya dari akhlak yang rendah dan watak yang tercela. Allah SWT berfirman:
Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Qs. Ad- Dzariat: 56)
Artinya: “Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan Aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (Al- An’am: 163)
2.             Mengurangi kecenderungan pada duniawi dibandingkan masalah ukhrowi. Allah SWT berfirman:
Artinya: “Dan Sesungguhnya hari Kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)[6][6]”....(Qs. Adh-Dhuha: 4).
3.             Bersikap tawadhu’ (rendah hati) dengan cara meninggalkan kepentingan pribadi untuk kepentingan pendidikannya.
4.             Menjaga pikiran dan pertantangan yang timbul dari berbagai aliran.
5.             Mempelajari ilmu – ilmu yang terpuji, baik untuk ukhrowi maupun untuk duniawi.
6.             Belajar dengan bertahap dengan cara memulai pelajaran yang mudah menuju pelajaran yang sukar.
7.             Belajar ilmu sampai tuntas untuk kemudian hari beralih pada ilmu yang lainnya, sehingga anak didik memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam.
8.             Mengenal nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari.
9.             Memprioritaskan ilmu diniyah sebelum memasuki ilmu duniawi.
10.         Mengenal nilai-nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan, yaitu ilmu yang dapat bermanfaat dalam kehidupan dinia akherat.
11.         Anak didik harus tunduk pada nasehat pendidik.[7][7]
Menurut Asma Hasan Fahmi, sebagai mana yang dikutip oleh samsul nizar, menuliskan beberapa kewajiban peserta didik antara lain :
1)             Peserta didik hendaknya membersihkan hatinya sebelum menuntut ilmu, hal ini disebabkan karena menuntut ilmu adalah ibadah dan tidak sah ibadah kecuali dengan hati yang bersih.
2)             Tujuan belajar hendaknya ditujukan untuk menghiasi ruh dengan berbagai sifat keutamaan.
3)             Memiliki kemampuan yang kuat untuk mencari dan menuntut ilmu diberbagai tempat.
4)             Setiap peserta didik wajib mengormati pendidiknya.
5)             Peserta didik hendaknya belajar secara sungguh-sungguh dan tabah dalam belajar.[8][8]
Selain yang ditulis oleh Asma Hasan Fahmi diatas, pengembara Ibnu Zubeir, menambahkan, kewajiban yang harus senantiasa diperhatikan oleh peserta didik adalah jangan pernah meremehkan suatu ilmu yang telah diberikan.[9][9]
               2.2. DEMENSI – DEMENSI PESERTA DIDIK
@. Dimensi-dimensi peserta didik yang akan dikembangkan
Berdasarkan proses penciptaan, manusia merupakan rangkaian utuh antara komponen materi dan immateri, komponen materi berasal dari tanah, seperti yang dituangkan dalam al-Qur’an surat as-sajadah ayat 7 :
Artinya :”yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.
Dan komponen immateri yaitu; ditiupkan roh oleh Allah. Sebagaimana yang dinyatakan Allah dalam al-Qur’an surat al-hijr ayat : 29 :
Artinya:
 “Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”
Dari komponen asal penciptaan manusia tersebut dapat dsimpulkan bahwa manusia yang akan menjadi peserta didik merupakan terdiri dari unsur jasmani dan rohani (fisik dan psikis). Sebagai peserta didik kedua unsur tersebut harus dikembangkan melalui pendidikan.
Adapun dimensi-dimensi peserta didik yang harus dikembangkan diantaranya adalah
A. Dari segi fisik (jasmani).
Abu Ishak menjelaskan bahwa, jasmani atu jasad sesuatu yang tidak dapat berfikir dan tidak dapat dilepaskan dari pengertian bangkai. Sedangkan menurut al-Lais, makhluk yang berjasad adalah makhluk yang makan dan minum. Menurut al-Ghazali, jasmani adalah bagian yang tidak sempurna, ia terdiri dari unsur-unsur materi, yang pada suatu saat komposisinya bisa rusak. Dengan demikian berarti jasmani manusia bentuk kasar manusia yang nampak, dapat diraba, menempati ruang dan waktu tertentu, mengalami perubahan dan pertumbuhan.[10]
Menurut Harun Nasution, sebagaimana yang dikutip oleh Samsul Nizar, menuliskan bahwa dari segi fisik (jasmani), dimensi manusia (peserta didik) yang harus dikembangkan adalah, potensi pendengaran, penglihatan, rabaan, penciuman dan daya gerak.[11]
Dalam pelaksanaan pendidikan jasmani, didalam al-qur’an ditemukan prinsip-prinsip tentang pendidikan jasmani, diantaranya ;
1. QS. Al-mudtsir : 4-5
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ(4)وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ(5)
“Dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah”.
2. QS. Al-a’raf : 31
يَابَنِي ءَادَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ(31)
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.
B. Dari segi psikis (rohani).
Aspek rohaniyah sifatnya abstrak dan tidak dapat realitaskan, ia hanya terlihat dari adanya aktifitas manusia. Namun para ulama mencoba memeberikan pengertian tentang roh, seperti yang dikuti oleh Samsul Nizar, sebagai berikut :
1. Al-Ghazali, membagi roh kepada dua bentuk ;
a. Al-ruh, yaitu; daya manusia untuk mengenal dirinya sendir, mengenal tuhannya dan mencapai ilmu pemgetahuan.
b. Al-nafs (jiwa) yaitu; panas alami yang mengalir pada pembuluh-pembuluh nadi, oto-otot dan syaraf manusia, ia sebagai tanda adanya kehidupan pada diri manusia.
2. Al-farabi, menuliskan roh merupakan daya penggerak yang memiliki daya aktif.[12]
Allah swt berfirman : QS. Al-syams : 7-10 :
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا(7)فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا(8)قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا(9)وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا(10)
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”.
Berdasarkan ayat diatas, dapat dilihat bahwa roh manusia berkembang ketaraf yang lebih tinggi apabila manusia berusaha kearah itu, yaitu dengan meningkatkan keimanan dan amal saleh, oleh karena itu untuk mewujudkan itu semua sangat membutuhkan pendidikan agama.
Dimensi kejiwaan merupakan dimensi yang sangat penting dan memiliki pengaruh dalam pengendalian keadaan manusia agar dapat hidup sehat, tentram dan bahagia. Firman Allah swt. dalam surat al-hijr : 29 :
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”
  1. Dimensi akal
Al-Ishfahami, membagi akal manusia kepada dua macam, yaitu ;
a. aql al-mathbu’, yaitu akal yang merupakan pancaran dari Allah sebagai fitrah ilahi, akal ini menduduki posisi yang sangat tinggi, namun akal tidak berkembang secara optimal.
b. Aql al-masmu’, yaitu akal yang merupakan kemampuan menerima yang dikembangkan oleh manusia.
Sedangkan fungsi akal manusia terbagi kepada enam macam, yaitu ;
a) Akal sebagai penahan nafsu
b) Akal adalah pengertian dan pemikiran yang berubah-ubah dalam menghadapi sesuatu.
c) Akal sebagai petunjuk yang dapat membedakan hidayah dengan kesesatan.
d) Akal sebagai kesadaran batin dan pengetahuan.
e) Akal sebagai pandangan batin yang berdaya tembus melebihi penglihatan mata.
f) Akal merupakan daya ingat mengambil dari yang telah lampau untuk masa yang akan dating.[13]
2.      Dimensi keberagamaan
Manusia adalah makhluk yang berketuhanan atau yang disebut dengan istilah homo divonous (makhluk yang percaya adanya tuhan). Berdasarkan hasil riset dan observasi, hamper hamper seluruh ahli ilmu jiwa sependapat bahwa pada diri manusia terdapat semacam keinginan dan kebutuhan yang bersifat universal.[14]
Dalam pandangan Islam, sejak lahir manusia telah mempunyai agama dan yang mengakui adanya zat yang maha pencipta. Seperti yang diterangkan oleh Allah dalam al-qur’an, surat al-a’raf ayat 172 :
Artinya :  
dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,
Manusia adalah hasil dari proses pendidikan yang mempunyai tujuan tertentu, tujuan pendidikan akan mudah tercapai kalau ia mempunyai kesamaan dengan sifat-sifat dasar dan kecenderungan manusia pada objek-objek tertentu.[15]
3.      Dimensi akhlak
Akhlak menurut pengertian Islam adalah salah satu hasil dari iman dan ibadat, karena iman dan ibadat tidak sempurna kecuali dengan muncul akhlak yang mulia.[16]
Menurut Al-Ghazali, akhlak merupakan tabiat yang bisa dilihat dalam dua bentuk:
b. Tabiat fitrah, yaitu kekuatan tabiat pada asal kesatuan tubuh dan berkelanjutan selama hidup.
c. Akhlak yang muncul dari suatu perangai yang banyak diamalkan dan ditaati sehingga menjadi bagian dari adat kebiasaan yang berurat dan berakar pada dirinya.
Adapun cirri-ciri akhlak Islam, antara lain :
a) Bersifat menyeluruh (universal), akhlak Islam adalah suatu metode (minhaj) yang sempurna meliputi seluruh gejala aktifitas biologis perseorangan dan masyarakat, serta dalam segala segi kehidupan.
b) Cirri-ciri keseimbangan manusia dan akhlaknya menghargai tabiat manusia.
c) Bersifat sederhana dan berlebihan pada satu aspek.
d) Realistis, akhlak Islam sesuai dengan kemampuan manusia dan sejalan dengan naluri yang sehat.
e) Kemudahan, manusia tidak dibebani kecuali dalam batas-batas kesanggupan manusia.
f) Mengikat kepercayaan dengan amal, perkataan dan perbuatan, teori dan praktek.
4.      Dimensi (seni) keindahan
Seni adalah eksperesi roh dan daya manusia yang mengandung dan melahirkan keindahan, sebagai manifestasi dan refleksi dari kehidupan manusia, maka seni merupakan bagi manusia untuk mencapai tujuan hidupnya.
Jadi, tujuan seni bukanlah untuk keindahan, tapi memiliki tujuan jangka panjang yaitu kebahagiaan spiritual dan material manusia didunia dan diakhirat, serta menjadi rahmat bagi segenap alam dibawah naungan ridha Allah.
Firman Allah. QS. Al-nahl : 1
أَتَى أَمْرُ اللَّهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ(1)
“Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang) nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.”
5.      Dimensi sosial
Seorang manusia adalah makhluk individual dan secara bersamaan adalah makhluk sosial. Keserasian antara individu dan masyarakat tidak mempunyai kontradiksi antara tujuan sosial dan individu.
Pendidikan sosial ini melibatkan bimbingan terhadap tingkah laku sosial, ekonomi, dan politik dalam kerangka aqidah Islam yang betul, ajaran-ajaran dan hukum-hukum yang dapat meningkatkan ketakwaan.
Pada dimensi-dimensi diatas, materi pendidikan dalam perspektif pendidikan Islam, terjalin erat antara satu dengan yang lain secara integaral dan harmonis. Model pendidikan yang ditawarkan harus memiliki muatan material dan spiritual, untuk mempersiapkan peserta didik hidup secara dinamis baik bagi kjehidupan dunia maupun kehidupan diakhirat kelak.
Oleh karena itu, muatan materi pendidikan humanistic Islami, tidak semata-mata berorientasi pada ilmi-ilmu agama, tetapi juga berorientasi pada ilmu-ilmu kontemporer.

               2.3. INTELEGENSI PESERTA DIDIK
Kecerdasan atau intelegensi peserta didik itu  ada 10 macam, yaitu:
1.         Kecerdasan linguistic (linguistik intelligence)
Adalah kemampuan untuk berfikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekpresikan dan menghargai makna yang komplek, yang meliputi kemampuan membaca, mendengar, menulis, dan berbicara.
2.         Intelegensi logis-matematis (logical matematich)
Adalah kemampuan dalam menghitung, mengukur dan mempertimbangkan proposisi dan hipotesis serta menyelesaikan operasi-operasi matematika.
3.         Intelegensi musik (musical intelegence)
Intelegensi musik adalah kecerdasan seseorang yang berhubungan dengan sensitivitas pada pola titik nada, melodi, ritme, dan nada. Musik adalah bahasa pendengaran yang menggunakan tiga komponen dasar yaitu intonasi suara, irama dan warna nada yang memakai system symbol yang unik.
4.         Intelegensi Kinestetik
Kinestetik adalah belajar melalui tindakan dan pengalaman melalui panca indera. Intelegensi kinestetik adalah kemampuan untuk menyatukan tubuh atau pikiran untuk menyempurnakan pementasan fisik. Dalam kehidupan sehari-hari dapat diamati pada actor, atlet atau penari, penemu, tukang emas, mekanik.
5.         Intelegensi Visual-spasial
Intelegensi visual-spasial merupakan kemampuan yang memungkinkan memvisualisasikan informasi dan mensintesis data-data dan konsep-konsep ke dalam metavor visual.
6.         Intelegensi Interpersonal
Intelegensi interpersonal adalah kemampuan untuk memahami dan berkomunikasi dengan orang lain dilihat dari perbedaan, temperamen, motivasi, dan kemampuan.
7.         Intelegensi Intrapersonal
Adalah kemampuan seseorang untuk memahami diri sendiri dari keinginan, tujuan dan system emosional yang muncul secara nyata pada pekerjaannya.
8.         Intelegensi Naturalis
Adalah kemampuan untuk mengenal flora dan fauna melakukan pemilahan-pemilahan utuh dalam dunia kealaman dan menggunakan kemampuan ini secara produktif, misalnya untuk berburu, bertani, atau melakukan penelitian biologi.
9.          Intelegensi Emosional
Adalah yang dapat membuat orang bisa mengingat, memperhatikan, belajar dan membuat keputusan yang jernih tanpa keterlibatan emosi. Jadi intelegensi emosional disini berkaitan dengan sikap motivasi, kegigihan, dan harga diri yang akan mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan siswa.
10.     Intelegensi Spiritual
Adalah kemampuan yang berhubungan dengan pengakuan adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta beserta isinya.[10][19]
               2.4. KEPERIBADIAN PESERTA DIDIDK
Menurut Eysenck (1964) menyatakan tipe kepribadian dibagi menjadi tiga, yaitu:
  • Kepribadian Ekstrovert: dicirikan dengan sifat sosiabilitas, bersahabat, menikmati kegembiraan, aktif bicara, impulsif, menyenangkan spontan, ramah, sering ambil bagian dalam aktivitas sosial.
  • Kepribadian Introvert: dicirikan dengan sifat pemalu, suka menyendiri, mempunyai kontrol diri yang baik.
  • Kepribadian Neurosis: dicirikan dengan pencemas, pemurung, tegang, bahkan kadang-kadang disertai dengan simptom fisik seperti keringat, pucat, dan gugup.

Menurut Mahmud (1990) menyatakan Kepribadian terbagi menjadi 12 tipe, yaitu:
  • Mudah menyesuaikan diri, baik hati, ramah, hangat VS dingin.
  • Bebas, cerdas, dapat dipercaya VS bodoh, tidak sungguh-sungguh, tidak kreatif.
  • Emosi stabil, realistis, gigih VS emosi mudah berubah, suka menghindar (evasive), neurotik.
  • Dominan, menonjolkan diri VS suka mengalah, menyerah.
  • Riang, tenang, mudah bergaul, banyak bicara VS mudah berkobar, tertekan, menyendiri, sedih.
  • Sensitif, simpatik, lembut hati VS keras hati, kaku, tidak emosional.
  • Berbudaya, estetik VS kasar, tidak berbudaya.
  • Berhati-hati, tahan menderita, bertanggung jawab VS emosional, tergantung, impulsif, tidak bertanggung jawab.
  • Petualang, bebas, baik hati VS hati-hati, pendiam, menarik diri.
  • Penuh energi, tekun, cepat, bersemangat VS pelamun, lamban, malas, mudah lelah.
  • Tenang, toleran VS tidak tenang, mudah tersinggung.
  • Ramah, dapat dipercaya VS curiga, bermusuhan.

            Menurut Hippocrates dan Galenus tipe kepribadian yang tertuang bersifat jasmaniah atau fisik. Mereka mengembangkan tipologi kepribadian berdasarkan cairan tubuh yang menentukan temperamen seseorang. Tipe kepribadian itu antara lain:
  • Tipe kepribadian choleric (empedu kuning), yang dicirikan dengan pemilikan temperamen cepat marah, mudah tersinggung, dan tidak sabar.
  • Tipe melancholic (empedu hitam), yang berkaitan dengan pemilikan temperamen pemurung, pesimis, mudah sedih dan mudah putus asa.
  • Tipe phlegmatic (lendir), yang bertemperamen yang serba lamban, pasif, malas, dan kadang apatis/ masa bodoh.
  • Tipe sanguinis (darah), yang memiliki temperamen dan sifat periang, aktif, dinamis, dan cekatan.

Menurut Kretchmer dan Sheldon tipologi kepribadian didasarkan bentuk tubuh atau bersifat jasmaniah. Macam-macaam kepribadian ini adalah:
  • Tipe asthenicus atau ectomorpic pada orang-orang yang bertubuh tinggi kurus memiliki sifat dan kemampuan berpikir abstrak dan kritis, tetapi suka melamun dan sensitif.
  • Tipe pycknicus atau mesomorphic pada orang yang betubuh gemuk pendek, memiliki sifat periang, suka humor, popular dan mempunyai hubungan sosial luas, banyak teman, dan suka makan.
  • Tipe athleticus atau mesomorphic pada orang yang bertubuh sedang/atletis memiliki sifat senang pada pekerjaan yang membutukhkan kekuatan fisik, pemberani, agresif, dan mudah menyesuaikan diri.
Namun demikian, dalam kenyataannya lebih banyak manusia dengan tipe campuran(dysplastic).

Menurut Jung, tipe kepribadian dikelompokan berdasarkan kecenderungan hubungan sosial seseorang, yaitu:
  • Tipe Ekstrovert yang perhatiannya lebih banyak tertuju di luar.
  • Tipe Introvert yang perhatiannya lebih tertuju ke dalam dirinya, dan dikuasai oleh nilai-nilai subjektif.
Tetapi, umumnya manusia mempunyai tipe campuran atau kombinasi antara ekstrovert dan introvert yang disebut ambivert.

Pada periode anak sekolah, kepribadian peserta didik belum terbentuk sepenuhnya seperti orang dewasa. Kepribadian mereka masih dalam proses pengembangan. Wijaya (1988) menyatakan karakteristik peserta didik secara sederhana dapat dikelompokkan atas:
1. Kelompok anak yang mudah dan menyenangkan.
2. Anak yang biasa-biasa saja.
3. Anak yang sulit dalam penyesuaian diri dan sosial.
 2.5. ETIKA PESERTA DIDIK
Agar peserta didik mendapatkan keridhoan dari Allah SWT dalam menuntut ilmu, maka peserta didik harus mampu memahami etika yang harus dimilkinya, yaitu:
a.              Peserta didik hendaknya senantiasa membersihkan hatinya sebelum menuntut ilmu.
b.             Tujuan belajar hendaknya ditujukan untuk menghiasi roh dengan berbagai sifat keutamaan.
c.              Memiliki kemauan yang kuat untuk mencari dan menuntut ilmu di berbagai tempat.
d.             Setiap peserta didik wajib menghormati pendidiknya.
e.              Peserta didik hendaknya belajar secara sungguh-sungguh dan tabah.[11][10]
Namun etika peserta didik tersebut perlu disempurnakan dengan empat akhlak peserta didik dalam menuntut ilmu, yaitu :
1.             Peserta didik harus membersihkan hatinya dari kotoran dan penyakit jiwa sebelum ia menuntut ilmu, sebab belajar merupakan ibadah yang harus dikerjakan dengan hati yang bersih.
2.             Peserta didik harus mempunyai tujuan menuntut ilmu dalam rangka menghiasi jiwa dengan sifat keimanan, mendekatkan diri kepada Allah.
3.             Seorang peserta didik harus tabah dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan sabar dalam menghadapi tantangan dan cobaan yang datang.
4.             Seorang harus ikhlas dalam menuntut ilmu dengan menghormati guru atau pendidik, berusaha memperoleh kerelaan dari guru dengan mempergunakan beberapa cara yang baik.[12][11]

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dipahami bahwa intelegensi, yang seringkali diartikan dengan kecerdasan, adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu dalam merespon dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kecakapan tersebut meliputi aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif.
Realitanya, intelegensi itu memilki banyak jenis dan beranekaragam. Hal inilah yang kemudian mendorong lahirnya pandangan, bahwa intelegensi itu mencakup 10 dimensi seperti yang dipaparkan oleh Gardner. Menurut Eysenck (1964) menyatakan tipe kepribadian dibagi menjadi tiga, yaitu:
  • Kepribadian Ekstrovert: dicirikan dengan sifat sosiabilitas, bersahabat, menikmati kegembiraan, aktif bicara, impulsif, menyenangkan spontan, ramah, sering ambil bagian dalam aktivitas sosial.
  • Kepribadian Introvert: dicirikan dengan sifat pemalu, suka menyendiri, mempunyai kontrol diri yang baik.
  • Kepribadian Neurosis: dicirikan dengan pencemas, pemurung, tegang, bahkan kadang-kadang disertai dengan simptom fisik seperti keringat, pucat, dan gugup.
Agar peserta didik mendapatkan keridhoan dari Allah SWT dalam menuntut ilmu, maka peserta didik harus mampu memahami etika yang harus dimilkinya








DAFTAR PUSTAKA
Slavin Robert E. Psikologi Pendidikan Teori dan praktek. Jakarta, PT. Indeks, 2011
Soemanto, Drs. Wasty. Psikologi Pendidikan; Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Jakarta: PT. Renika Cipta, 1990.
Sunardi, S.Pd. Kecerdasan Majemuk. 04 21, 2009.
 Arifin, H.M., Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1994.
Ali, Hery Noer, Drs. MA dan Munzier S. Drs. MA. , Watak Pendidikan Islam, Jakarta : Friska Agung Insani, 2000.
Azza, Azyumardi, Pendidikan Islam, Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999.
Buchori, Mochtar, Ilmu Pendidikan dan Praktek Pendidikan dalam Renungan,  Jakarta : IKIP Muhamadiyah. 1994.
Daradjat, Zakiah, Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental,  Jakarta : Bulan Bintang, 1982.
Fathurrohman, Pupuh, Prof. Strategi Belajar Mengajar, Bandung : Reflika Aditama, 2007.
Gunawan, H. Ary, Kebijakan-kebijakan Pendidikan di Indonesia , Jakarta : Bina Aksara, 1986.
Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia:Lintas Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1995.
Mastuhu, M. Ed, Memperdayakan Sytem Pendidikan Islam, Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999.
Mulyasa, E, Dr. M.Pd, Kurikulum Yang Disempurnakan, Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 2006.
Nata, Abudin, Prof. Dr. MA, Manajemen Pendidikan , Jakarta : Fajar Inter Pratama, 2003.
Panduan Lengkap KTSP, Jakarta : Pustaka Yustisia, 2007.
Purwanto, M. Ngalim, Drs. MP, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 2004.
Rosidin, H. Deden, Drs. M.Ag, Akar-akar Pendidikan dalam Al-Quran dan Hadits, Bandung : Pustaka Umat, 2003.
Suharto, Toto, Filsafat Pendidikan Islam, Jogjakarta : Ar-Ruzz, 2006.
Tafsir, A, Prof. Dr. ,Cakrawala Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung : Mimbar Pustaka, 2004.


[1][1]. Samsul Nizar. Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Ciputat Press. 2002), hlm. 25.
[2][2]. Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati. Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1991), hlm. 26
[3][3]. Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam. (Jakarta : Ciputat Press. 2002), hlm. 20 Lihat Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta : Kalam Mulia, 2008), hlm. 36.
[5][5].  http://alenmarlissmpn1gresik.wordpress.com/2009/12/29/hak-dan-kewajiban-peserta-didik-berdasarkan-uu-no-20-th-2003/
[6][6]. Maksudnya ialah bahwa akhir perjuangan Nabi Muhammad Saw itu akan menjumpai kemenangan-kemenangan, sedang permulaannya penuh dengan kesulitan-kesulitan. Ada pula sebagian ahli tafsir yang mengartikan akherat dengan kehidupan akherat beserta segala kesenangannya dan pula dengan arti kehidupan dunia. Lihat Departemen Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an Dan Terjemahnya Juz 1-30, (Semarang; PT. Kumudasmoro Grafindo Semarang, 1994), hlm. 1070.
[7][7]. Abd. Mujid dalam Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta:Kalam Mulia, 2004), hlm. 98. Lihat http://misbakhudinmunir.wordpress.com/2010/07/14/peserta-didik-dalam-pendidikan-islam/
[8][8]. Samsul Nizar. Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta ; Ciputat press. 2002). hlm. 38.
      [10][19]   Ibid

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar